Universitas Mulawarman

Berita

Images Images Images Images

Universitas Mulawarman

Hadapi Era VUCA, FISIP UNMUL Tekankan Kepemimpinan Kolaboratif dan Literasi Digital

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman (FISIP UNMUL) menggelar kuliah umum mengenai kepemimpinan kolaboratif di era digital. Acara ini menyoroti pentingnya perubahan paradigma kepemimpinan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Kuliah umum tersebut diselenggarakan di ruang serbaguna Dekanat FISIP UNMUL, Kamis (30/4/2026).

Mahasiswa sebagai Solusi Bangsa

Dalam sambutannya, Dekan FISIP UNMUL, Dr. Finnah Fourqoniah, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar gelar, melainkan proses membentuk manusia yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Semangat perjuangan harus terus digelorakan, baik di kalangan mahasiswa, rakyat Indonesia, hingga penguatan peran perempuan bangsa. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa mampu menghadapi tantangan kepemimpinan digital dengan mengedepankan semangat kebersamaan," ujar Dr. Finnah saat memberikan sambutan juga membuka acara kuliah umum tersebut.

Kepemimpinan: Belajar "Berjalan di Atas Badai"

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Jafar Hafsah, IPU., APEC., ASEAN Eng., membedah realitas dunia saat ini yang dikenal dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity). Menurutnya, dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan "tsunami" perubahan yang tak terduga.

"Jika dulu ada pepatah 'badai pasti berlalu', maka di era sekarang, badai tidak pernah benar-benar pergi. Kita tidak lagi menunggu badai reda, melainkan harus belajar berjalan di atas badai," tegas Prof. Jafar.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan formal seperti Gubernur atau Presiden. Kepemimpinan sejati adalah kemampuan untuk memengaruhi, memotivasi, dan memberikan kontribusi nyata guna mencapai tujuan bersama.

Prof. Jafar menggarisbawahi bahwa kepemimpinan masa kini tidak boleh terjebak dalam "ego sektoral" atau bekerja secara individu. Ia menggunakan analogi Dirigen Musik untuk menggambarkan sosok pemimpin masa kini.

"Pemimpin berfungsi sebagai dirigen yang menyelaraskan berbagai instrumen atau unit lembaga agar tercipta harmoni yang indah layaknya simfoni. Kolaborasi adalah tentang sharing energy," jelas Prof. Jafar.

Digitalisasi dan Adaptasi Antargenerasi

Menyikapi era disrupsi, Prof. Jafar mengingatkan bahwa digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan yang telah terakselerasi sejak pandemi COVID-19. Ia menekankan pentingnya adaptasi teknologi bagi generasi senior agar tidak tertinggal dari Generasi Z dan Milenial.

Selain itu, ia memberikan pesan khusus bagi para tenaga pendidik. Di era informasi terbuka, pengajar bukan lagi satu-satunya sumber kebenaran.

"Mahasiswa kini bisa mengakses data secara instan. Oleh karena itu, pengajar harus memiliki pemahaman sepuluh kali lipat lebih dalam agar tetap relevan dalam membimbing mahasiswa," tambah Prof. Jafar.

Sebagai penutup, Prof. Jafar menegaskan bahwa sekitar 65 persen kegagalan organisasi disebabkan oleh manajemen yang buruk dan ego antar unit yang terlalu kuat. Maka, kunci utama keberhasilan masa depan adalah kesiapan mental untuk berubah.

"Keberhasilan di masa depan bergantung pada kemampuan kita untuk keluar dari zona nyaman individu. Kita harus mulai membangun jaringan kolaborasi yang didukung oleh literasi digital yang kuat dan komunikasi publik yang transparan," pungkas Prof. Jafar.

Penulis: Rijen

Editor: Sulkarnain

Foto: Ahmad Baharuddin

Tanggal : 30 April 2026

Kepemimpinan Kolaboratif Literasi Digital UNMUL Generasi Muda