- Telepon : +(62) 811 555 1962
- Email : humas@unmul.ac.id
- Jam Kerja : Senin - Jumat : 08:00 - 16:00
Universitas Mulawarman
Universitas Mulawarman (UNMUL) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pelestarian lingkungan melalui penyelenggaraan diskusi bertajuk Masyarakat Adat, Konservasi Alam dan Perubahan Iklim.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara akademisi, masyarakat adat, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang lecture theatre gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., UNMUL Hub, Selasa (7/7/2026).
Akademisi UNMUL, Dr. Haris Retno Susmiyati, S.H., M.H., menilai masyarakat adat memiliki posisi yang sangat strategis dalam upaya konservasi alam. Pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dinilai menjadi modal penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Menurutnya, praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan masyarakat adat selama ini telah membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.
"Masyarakat adat bukan hanya menjadi bagian dari kawasan hutan atau wilayah konservasi, tetapi mereka adalah penjaga pengetahuan dan kearifan lokal yang telah terbukti mampu menjaga kelestarian alam selama bertahun-tahun," ujar Dr. Haris Retno Susmiyati yang juga sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum UNMUL.
Ia menjelaskan, perubahan iklim yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat adat yang bergantung langsung pada sumber daya alam.
Karena itu, kebijakan konservasi menurutnya perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi keterlibatan masyarakat adat dalam setiap proses perencanaan maupun pengambilan keputusan.
"Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Masyarakat adat harus ditempatkan sebagai mitra strategis karena mereka memiliki pengalaman panjang dalam mengelola alam secara berkelanjutan," jelas Dr. Haris Retno Susmiyati.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjembatani berbagai kepentingan melalui riset, pengabdian kepada masyarakat, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis ilmiah.
Menurutnya, hasil penelitian yang dilakukan akademisi dapat menjadi dasar dalam memperkuat pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat sekaligus mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih inklusif.
Selain menjadi forum pertukaran gagasan, diskusi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas adat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
"Konservasi alam tidak hanya berbicara tentang menjaga hutan, tetapi juga bagaimana menjaga manusia, budaya, dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari keberlanjutan lingkungan. Karena itu kolaborasi semua pihak menjadi kunci," pungkas Dr. Haris Retno Susmiyati.
Melalui kegiatan ini, Universitas Mulawarman berharap lahir berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat peran masyarakat adat dalam konservasi alam sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, khususnya di Kalimantan Timur yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang sangat besar.
Penulis: Andi Arief Bintang
Editor: Sulkarnain
Foto: Pandu Leo Abdillah
Tanggal : 07 Juli 2026