Universitas Mulawarman

Berita

Images Images

Universitas Mulawarman

Perkuat Kepemimpinan Perempuan Pesisir, Dosen UNMUL Jadi Narasumber Pelatihan di Berau

Komitmen dalam mendorong keterlibatan perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan terus diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Pemberdayaan Perempuan Pesisir yang diselenggarakan Yayasan Laut Biru Kepulauan Derawan (YLBKD) bersama Global Conservation (GC) dengan dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur (DKP Kaltim) pada 19 hingga 20 Juni 2026 di Kantor UPTD KKP3K-KDPS Tanjung Batu, Kabupaten Berau.

Mengusung tema “Perempuan Penjaga Laut: Dari Kesadaran Lingkungan Menuju Kepemimpinan Komunitas Pesisir”, kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas perempuan sebagai agen perubahan dalam mendukung pengelolaan kawasan pesisir dan laut yang berkelanjutan.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala UPTD KKP3K-KDPS Tanjung Batu, Didik Riyanto, S.A.Pi., yang diawali dengan sambutan Ketua YLBKD sekaligus Direktur Indonesia Global Conservation, Dr. Dadang Mujiono, serta sambutan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur yang diwakili Kepala Seksi Pengawasan Budidaya Perikanan, Eva Warhdhani, M.Ling.

Pada kegiatan tersebut, akademisi Universitas Mulawarman (UNMUL), Dr. Yayuk Anggraini, hadir sebagai narasumber utama yang membawakan materi terkait perspektif gender, kepemimpinan perempuan, serta penguatan kapasitas komunitas pesisir. Peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari kelompok istri nelayan, kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar), hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah pesisir Tanjung Batu.

Dr. Yayuk Anggraini menjelaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir karena berperan langsung dalam keluarga maupun kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, upaya konservasi tidak hanya membutuhkan pendekatan ekologis, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat yang didukung oleh kepemimpinan perempuan yang kuat.

“Perempuan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di komunitas pesisir. Melalui peningkatan kapasitas, pengetahuan lingkungan, serta kemampuan kepemimpinan, perempuan dapat menjadi motor penggerak dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ujar Dr. Yayuk.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi mengenai kondisi lingkungan pesisir, ancaman terhadap ekosistem laut akibat praktik penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom ikan, penguatan peran perempuan dalam perubahan sosial, pengembangan kapasitas kepemimpinan, hingga penyusunan rencana tindak lanjut yang dapat diimplementasikan di komunitas masing-masing.

Ketua YLBKD sekaligus Direktur Indonesia Global Conservation, Dr. Dadang Mujiono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir melalui pendekatan berbasis masyarakat dan inklusi gender.

“Kami meyakini bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan program, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat, termasuk perempuan. Karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membangun kapasitas dan kepercayaan diri perempuan pesisir agar mampu mengambil peran yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, YLBKD, GC, dan DKP Kaltim menargetkan peningkatan pemahaman perempuan terhadap kondisi lingkungan pesisir dan berbagai ancaman yang dihadapi ekosistem laut, memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan dalam keluarga dan masyarakat, mengembangkan kapasitas kepemimpinan serta pengorganisasian komunitas, membangun jejaring perempuan pesisir yang aktif dalam kegiatan konservasi, serta mendorong lahirnya berbagai inisiatif lokal yang mendukung keberlanjutan sumber daya laut.

Salah satu peserta, H. Saena, mengaku memperoleh banyak manfaat dari kegiatan tersebut, khususnya dalam penguatan kapasitas usaha dan pengambilan keputusan dalam kelompok.

“Dari kegiatan ini saya belajar bagaimana menyusun rencana, mencari solusi atas permasalahan usaha, serta pentingnya berdiskusi dengan anggota kelompok ketika menghadapi hambatan, seperti kenaikan harga bahan baku. Saya juga mendapatkan pemahaman bahwa ketika menghadapi kendala, kami dapat berkonsultasi dan berkoordinasi dengan narasumber, termasuk Ibu Yayuk sebagai mentor yang dapat dihubungi untuk memberikan arahan dan solusi. Semoga ilmu yang saya peroleh dapat saya terapkan dan saya bagikan kepada anggota kelompok sehingga usaha kami dapat berkembang dan berjalan lebih lancar,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, program pendampingan dan penguatan kapasitas perempuan pesisir akan kembali dilaksanakan pada tahap berikutnya yang direncanakan berlangsung pada September 2026. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan tersebut, diharapkan semakin banyak perempuan pesisir yang mampu tampil sebagai pemimpin komunitas sekaligus penjaga kelestarian laut bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kontribusi UNMUL melalui peran dosen dan akademisinya dalam mendukung pembangunan masyarakat pesisir yang inklusif, berkelanjutan, serta berorientasi pada pelestarian lingkungan di Kaltim.

 

Penulis: Andi Arief Bintang 

Editor: Sulkarnain

Tanggal : 24 Juni 2026

UNMUL Kampus Berdampak Dosen Berdampak Kemdiktisaintek YLBKD Pemberdayaan Masyarakat DKP Kaltim Kabupaten Berau