- Telepon : +(62) 811 555 1962
- Email : humas@unmul.ac.id
- Jam Kerja : Senin - Jumat : 08:00 - 16:00
Universitas Mulawarman
Universitas Mulawarman (UNMUL) terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan diri melalui kegiatan sosial, lingkungan, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat tersebut tercermin dari perjalanan Shabirah Hashifah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Kelas Bahasa Internasional (KBI) angkatan 2023 UNMUL, dalam mengikuti seleksi program Sobat Bumi.
Perjalanan Shabirah menuju Beasiswa Sobat Bumi tidak berlangsung sekali jalan. Ia sempat gagal dalam proses seleksi pada tahun 2024, namun memilih untuk tidak berhenti. Berbekal evaluasi diri dan pengalaman dari kegagalan sebelumnya, Shabirah kembali mencoba sekali lagi, pada tahun 2025 hingga akhirnya berhasil menembus program beasiswa tersebut di percobaan keduanya.
Bagi Shabirah, Sobat Bumi bukan hanya sekadar program beasiswa. Lebih dari itu, program ini menjadi wadah untuk belajar, berkembang, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Menurut Shabirah, Sobat Bumi bukan hanya tentang beasiswa, tetapi juga tentang lingkungan dan pengembangan diri. Di dalamnya ada banyak kegiatan sosial, lingkungan, sampai pengabdian masyarakat yang sangat dekat dengan hal-hal yang saya sukai. “Tapi hal yang paling bikin saya tidak menyesal untuk mencoba sekali lagi di tahun berikutnya adalah kekeluargaan. Bagaimana orang-orang di Sobat Bumi Samarinda bisa menciptakan lingkungan yang tidak hanya hangat, tapi juga mendukung setiap langkah dan tindakan yang saya ambil,” ungkap Shabirah.
Ia menilai, nilai-nilai yang dibawa oleh Sobat Bumi sejalan dengan semangat pengembangan mahasiswa di lingkungan UNMUL. Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kepedulian sosial, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta memperluas wawasan terhadap isu-isu lingkungan.
Merefleksikan pengalamannya pada tahun 2024, Shabirah mengaku bahwa kegagalan yang pernah ia alami menjadi pelajaran penting. Saat itu, ia merasa masih kurang siap dari segi pengalaman maupun kemampuan dalam menyampaikan potensi diri, terutama pada tahap Focus Group Discussion atau FGD.
“Waktu itu saya merasa masih belum terlalu memahami bagaimana menunjukkan value diri dengan baik saat proses seleksi, terutama saat FGD. Bukan berarti saya tidak mampu, tetapi memang masih banyak hal yang perlu dipelajari, terutama terkait isu energi baru terbarukan yang relevan dengan program Sobat Bumi,” jelasnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik evaluasi diri bagi Shabirah. Ia mulai memperbaiki CV, lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan, melatih kemampuan komunikasi dan public speaking, serta memperdalam pemahaman mengenai isu sosial dan lingkungan yang relevan dengan program Sobat Bumi.
Dalam proses itu, lingkungan akademik UNMUL turut berperan dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang. Melalui kegiatan kemahasiswaan, organisasi, diskusi akademik, hingga pembelajaran di luar kelas, mahasiswa didorong untuk menjadi pribadi yang aktif, kritis, dan peduli terhadap persoalan masyarakat.
Menurut Shabirah, kegagalan pada kesempatan pertama justru membuat dirinya semakin yakin untuk mencoba kembali pada tahun 2025. Ia percaya bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk menjadi lebih siap.
“Walaupun sempat gagal di tahun pertama, pengalaman itu justru membuat saya lebih yakin untuk mencoba lagi. Saya percaya kadang kita memang perlu melalui proses gagal dulu supaya lebih siap di kesempatan berikutnya,” tuturnya.
Dari proses seleksi tersebut, Shabirah belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Kesiapan mental, konsistensi, kepedulian sosial, serta kemampuan menunjukkan nilai diri juga menjadi faktor penting.
Ia menyebut, FGD menjadi salah satu tahapan yang paling menantang karena peserta dituntut untuk mampu berpikir cepat, menyusun argumen, menyampaikan pendapat, sekaligus menghargai pandangan peserta lain.
“FGD itu cukup tricky. Kita dituntut untuk problem solving dalam waktu yang sangat singkat. Tantangannya bukan hanya soal aktif berbicara, tetapi juga bagaimana bisa bekerja sama dalam tim, mendengarkan orang lain, dan tetap menunjukkan versi terbaik dari diri sendiri,” ujarnya.
Shabirah menjadi contoh bahwa mahasiswa UNMUL memiliki kesempatan luas untuk terus bertumbuh melalui berbagai proses, termasuk dari pengalaman kegagalan. Dengan semangat belajar dan evaluasi diri, kegagalan dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Kisah Shabirah menjadi contoh bahwa kegagalan dapat menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengevaluasi diri dan mempersiapkan langkah berikutnya dengan lebih matang. Melalui dukungan lingkungan akademik UNMUL dan semangat untuk terus berkembang, ia membuktikan bahwa keberanian mencoba kembali dapat membuka kesempatan baru.
Shabirah adalah salah satu contoh dari ribuan mahasiswa yang terus memperjuangkan pendidikannya. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak menjadi akhir dari sebuah perjalanan, tapi sebagai pengingat bahwa mimpi adalah sesuatu yang tidak selalu datang dengan jalan yang mudah, kadang itu hadir setelah proses panjang, setelah banyak pengorbanan dan keberanian untuk mencoba lagi, setelah seseorang percaya, bahwa dirinya masih punya kesempatan untuk berhasil.
Penulis: Muhammad Hisyam Nugroho
Editor: Sulkarnain
Tanggal : 21 Mei 2026