Universitas Mulawarman

Berita

Images Images Images

Universitas Mulawarman

Kisah Rion, Mahasiswa Afirmasi UNMUL yang Sukses Menembus Ketatnya Seleksi Tanoto Scholars

Tidak semua perjalanan pendidikan dimulai dari tempat yang dekat. Sebagian orang harus menempuh jarak yang jauh, meninggalkan tempat yang sudah akrab dan nyaman, lalu memberanikan diri memulai hidup baru di tempat yang sama sekali berbeda. Begitulah kisah Rion, mahasiswa program studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Mulawarman (UNMUL) angkatan 2023, yang datang dari Malaysia menuju Kota Tepian untuk memperjuangkan pendidikan.

Rion lahir dan menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah menengah di Malaysia. Setelah bertahun-tahun tumbuh di negeri Jiran, ia kemudian memilih melanjutkan langkahnya ke Indonesia. Samarinda menjadi kota labuhan akhirnya. Bukan sekadar berpindah tempat, keputusan itu menjadi bagian dari keberaniannya untuk membuka babak baru dalam hidup, sekaligus memperjuangkan haknya atas pendidikan yang lebih tinggi.

Rion merupakan lulusan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu. Sekolah ini didirikan Pemerintah Indonesia untuk menjamin hak pendidikan anak-anak pemegang paspor Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dari sana, jalan Rion menuju perguruan tinggi mulai terbuka. Melalui fasilitas dari kementerian, ia memperoleh akses jalur afirmasi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Kesempatan itu tidak ia sia-siakan hingga akhirnya berhasil diterima di perguruan tinggi.

Dari penelusurannya, Rion menemukan bahwa kampus yang berdiri di kawasan Gunung Kelua ini memiliki rekam jejak yang kuat, termasuk sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Kalimantan. Selain itu, ia juga melihat adanya alumni dari sekolahnya yang melanjutkan pendidikan di UNMUL. Hal tersebut membuatnya semakin yakin untuk mengambil langkah.

Beradaptasi di Samarinda ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Budaya masyarakatnya masih terasa serumpun dengan tempat ia tumbuh. Meski begitu, ada hal-hal kecil yang sempat membuatnya tersenyum heran. Di tengah proses adaptasi itu, Rion perlahan menemukan rumah baru. Samarinda bukan lagi sekadar kota tempat ia belajar, tetapi juga ruang tempat ia bertumbuh, mengenal banyak orang, dan membangun mimpi-mimpi baru.

Perjalanan Rion sebagai penerima beasiswa bermula dari Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Pada tahun 2023, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation. Dari kerja sama tersebut, pihak rektorat kemudian mengarahkan Rion untuk mengikuti seleksi program pengembangan Tanoto Foundation.

Rion tidak berjalan sendirian. Ia mendapatkan bantuan dari mahasiswa yang tergabung Keluarga Mahasiswa (Gama) KIP-K dalam menyelesaikan seluruh proses administrasi. Baginya, kesempatan itu datang sebagai jalan yang perlu dicoba, meskipun ia tidak ingin menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Ia memilih menjalani prosesnya dengan tenang dan memandang kesempatan tersebut sebagai rezeki dari Tuhan.

Namun, jalan menuju Tanoto Scholarship bukanlah proses yang mudah. Seleksi yang ia lalui berjalan ketat dan setara dengan mahasiswa jalur reguler. Rion harus melewati seleksi berkas, tes numerik, studi kasus, hingga tes psikologi.

Tahap yang paling menantang baginya adalah Focus Group Discussion (FGD). Dalam tahap tersebut, ia harus berdiskusi, memecahkan masalah, dan menawarkan solusi konkret bersama calon penerima beasiswa dari 10 mitra kampus Tanoto Foundation, termasuk perwakilan dari berbagai universitas besar di Pulau Jawa. Di tengah suasana seleksi yang kompetitif, Rion belajar untuk mengendalikan diri. Ia berusaha memberikan performa terbaik tanpa terburu-buru saat berbicara. 

Ia memilih menyampaikan gagasan dengan terukur, mendengarkan pendapat peserta lain, dan menyelaraskan pandangannya agar diskusi berjalan produktif. Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Pada semester dua, Rion resmi dilantik sebagai Tanoto ScholarsBagi Rion, pencapaian tersebut bukan hanya tentang berhasil mendapatkan beasiswa, tetapi juga tentang membuktikan bahwa perjalanan panjang yang ia tempuh memiliki makna.

Rion mendeskripsikan beasiswa Tanoto Foundation melalui dua kata kunci: peluang dan hak istimewa. Peluang ia rasakan melalui berbagai program pengembangan diri yang komprehensif, mulai dari Lead Self, Lead Others, Career Preparation, hingga Global Experience. Program-program tersebut tidak hanya membantunya berkembang secara akademik, tetapi juga membentuk cara pandangnya terhadap diri sendiri, orang lain, dan masa depan. 

Sementara itu, hak istimewa ia rasakan dari akses terhadap lingkungan yang mendukung. Menjadi seorang  Teladan scholar mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa hebat dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jaringan itu, Rion belajar bahwa bertumbuh tidak cukup dilakukan sendiri. Ada banyak nilai yang bisa diperoleh ketika seseorang mau membuka diri, mendengar cerita orang lain, dan belajar dari perjalanan yang berbeda-beda.

Di antara berbagai program yang ia ikuti, modul  Lead Self menjadi pengalaman yang paling berdampak.  Lead Self adalah tahap pertama dalam program pengembangan Tanoto Foundation yang berfokus membantu mahasiswa memahami profil diri secara mendalam melalui tes asesmen resmi. Melalui modul tersebut, Rion belajar memetakan kelemahan, kekuatan, minat, dan karakter dirinya secara lebih terstruktur. 

Pemahaman itu kemudian menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Bagi Rion, mengenal diri sendiri adalah bagian penting dari proses bertumbuh. Sebelum seseorang mampu memimpin orang lain atau memberi dampak bagi lingkungan sekitar, ia perlu terlebih dahulu memahami dirinya sendiri.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Rion adalah Tanoto Scholars Gathering 2025 di Pangkalan Kerinci, Sumatera. Dalam kegiatan tersebut, ia tidak hanya belajar mengenai operasional perusahaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk membangun relasi yang lebih luas. Persiapan portofolio profesional yang ia lakukan sebelumnya terbukti sangat membantu. Ia dapat memperkenalkan dirinya dengan lebih percaya diri dan membuka ruang percakapan dengan banyak orang baru. Kebanggaannya semakin lengkap ketika kontingen UNMUL berhasil meraih penghargaan Best Performance

Momen itu menjadi salah satu pengingat bagi Rion bahwa setiap proses kecil yang disiapkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah benar-benar sia-sia. Ada hasil yang mungkin tidak langsung terlihat, tetapi perlahan akan menemukan waktunya sendiri.

Sebagai seorang scholar, Rion juga berusaha agar manfaat yang ia terima tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia aktif menyebarkan informasi beasiswa melalui media sosial, berbagi pengalaman dalam kegiatan Tanoto Talks, serta membimbing adik tingkat di fakultasnya hingga berhasil diterima di program yang sama. 

Baginya, menjadi penerima beasiswa bukan hanya tentang memperoleh bantuan dan kesempatan, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk menjadi representasi yang baik. Ia ingin kehadirannya dapat membuka jalan bagi orang lain, terutama bagi mereka yang masih ragu untuk mencoba.

Perjalanan Rion dari Negeri Jiran ke Kota Tepian membawa pesan sederhana tetapi dalam: jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman. Sebab, sering kali kesempatan baru justru ditemukan ketika seseorang berani mengambil langkah yang tidak mudah. Rion menyadari bahwa kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi adalah sebuah hak istimewa yang patut disyukuri. 

Tidak semua orang memiliki akses dan peluang yang sama. Karena itu, bagi mahasiswa yang hari ini sedang berjuang, ia berpesan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

“Zona nyaman itu tidak salah karena kita memiliki preferensi yang berbeda. Tetapi, mencoba keluar dari zona nyaman akan memberikan kita banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. Coba saja, jangan takut dan jangan ragu. Banyak teman-teman di luar sana yang belum bisa mendapatkan hak berpendidikan dan kesempatan yang sama dengan kita,” ujar Rion saat diwawancarai oleh Humas UNMUL.

Di akhir perjalanannya, Rion selalu berpegang pada prinsip tabur tuai. Apa yang dilakukan hari ini, menurutnya, akan menjadi bagian dari hasil yang dituai pada masa depan.

“Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Apa yang kita lakukan hari ini, itu yang kita tuai nanti. Lakukan banyak hal di hari ini, dalam nama Tuhan Yesus, jalan akan selalu dibukakan,” urai Rion.

Dari Malaysia ke Samarinda, dari rasa asing menuju keberanian untuk bertumbuh, kisah Rion menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal tempat seseorang belajar. Pendidikan juga tentang keberanian untuk melangkah, kesediaan untuk berproses, dan keinginan untuk memberi dampak bagi orang lain.

Di Kota Tepian, Rion tidak hanya menemukan kampus. Ia menemukan ruang untuk merawat mimpi, memperluas harapan, dan menabur kebaikan yang kelak akan tumbuh menjadi jalan bagi lebih banyak orang.


Penulis: Muhammad Hisyam Nugroho

Editor: Sulkarnain

 

Tanggal : 20 Juli 2026

Malaysia Indonesia Beasiswa Tanoto Foundation KIP-K UNMUL Mahasiswa Inspiratif