Fahutan UNMUL Gelar Simposium Internasional


Sebuah Simposium berskala internasional sukses digelar Fakultas Kehutanan (Fahutan), Universitas Mulawarman (UNMUL), Rabu, (03/10) hingga Kamis, (04/10). Agenda yang diberi nama The 1st International Symposium on Tropical Forestry and Environmental Sciences (ISTFES 2018) menghadirkan pembicara dari University of Twente, Belanda, Yousif Hussin, Ph.D dan Dr. Tetra Yanuariadi dari International Tropical Timber Organization (ITTO) Yakohama, Jepang. Serta tidak ketinggalan Dekan Fahutan UNMUL sendiri, Dr. Rudianto Amirta., MP.

 “Sungguh suatu kebahagiaan bagi kami karena terlaksananya acara ini, terutama peserta yang datang dari dalam dan luar negeri. Atas nama universitas, kami sampaikan selamat datang di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,” jelas Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Mustofa Agung Sardjono, sebelum membuka acara secara resmi.

Di atas podium dirinya juga menyampaikan simposium ini sangat berkorelasi dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) yang dimiliki UNMUL yakni Hutan Hujan Tropis dan Lingkungannya. Di Gedung Bundar Fahutan tempat acara dihelat, visi jangka panjang UNMUL juga dipaparkan yaitu menjadi World Class University serta sebagai universitas Pusat Unggulan Studi Tropis.

“Untuk mencapai universitas berskala internasional tersebut, saat ini kami sedang mencoba untuk mengoptimalkan pola ilmiah utamanya agar dapat diadopsi oleh semua fakultas dan unit kerja untuk melaksanakan misi mereka,” tuturnya dalam bahasa inggris.

PIP ini dipilih ungkapnya, karena disadari bahwa posisi UNMUL terletak di kawasan jantung pusat mega biodiversitas dunia dan situasi ini akan menjadi keuntungan komparatif untuk mengembangkan universitas.

Guru Besar Fahutan ini juga menyadari bahwa, hutan hujan tropis di provinsi ini telah mengalami penurunan secara drastis sejak tiga dekade terakhir. Menurut data, Kalimantan Timur diwakili oleh sekitar 8,4 juta hektar hutan, dimana 4,4 juta hektar dikategorikan sebagai lahan kritis di dalam hutan, dan masih ada sekitar 1,8 juta hektar lahan kritis di luar hutan.

Oleh karena itu, alumni Hamburg University ini berharap, simposium internasional kali ini tidak hanya menghasilkan artikel ilmiah internasional. Namun dapat mendorong para ahli dan semua peserta untuk mencari tahu strategi cerdas dan ide-ide baru untuk mengatasi masalah penurunan hutan hujan tropis di provinsi ini akibat eksploitasi yang berlebihan. (hms/frn)